
Sampul Buku "Just For U, Ustadz", karya Fina (Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah Salatiga). 262 halaman; 11 x 17 cm; Penerbit Mata Pena; Februari 2009; Harga Rp. 20,000.-
Di sampul belakang novel remaja ini tertulis:
“Hey, dia bukan santri, tapi ustadz,” bisik Syariah.
Laura sedikir mrengut.
“Napa? Nyesel, naksir ustadz itu?”
“Iya, nyesel. Nyesel duduk di belakang. Tahu gini, aku milih duduk di depan,” ucap Laura dengan senyum saltingnya.
Itu mengawali masa-masa indah Laura. Apalagi surat yang ia titipkan lewat Ali untuk sang ustadz mendapat balasan. Laura merasa tak bertepuk sebelah tangan. Ia jadi penuh semangat. Sampai tiba-tiba muncul sosok Zahra, gadis masa lalu Ustadz Yahya, dan tiba-tiba juga mereka seperti dipertemukan sebagai berjodoh.
“Aku tidak menduga kalau ustadz bisa setega itu,” Syariah menarik napas berat.
“Terus kamu mau bagaimana? Apa mau menghentikan pernikahan itu?”
Hmm, apa iya Laura akan menghentikan pernikahan Ustadz Yahya dan Zahra? Kalau enggak, lantas apa yang akan dilakukan Laura?
Benar, karya fiksi yang satu ini termasuk ke dalam genre chic-lit alias sastra populer, bacaan kaum remaja. Namun siapa sangka jika latar belakang yang diangkat oleh fiksi ini adalah kehidupan pesantren, sebuah kehidupan yang jauh dari jangkauan remaja perkotaan. Lantas, bagaimana novel ini mengemas kehidupan santri sebagai cerita yang chic?
Tokoh utama fiksi ini adalah Laura, seorang gadis yang berumur kira-kira sama dengan penulisnya yaitu belasan tahun. Laura adalah gadis penuh semangat belajar. Menimba ilmu di pesantren adalah keputusan yang diambilnya sendiri, tanpa paksaan dari siapapun. Inilah mengapa di sepanjang cerita Laura enjoy menjalani hari-harinya di pesantren. Melalui senangnya hati Laura, Fina berhasil memancarkan kedamaian dan keceriaan kehidupan pesantren hingga menyentuh benak pembacanya.
“…salafnya tetep kerasa kok,” tambah Laura, “aku juga seneng banget di pondok. Seperti ada kedamaian tersendiri. Kelakuan kita bener-bener terkontrol. Dengan menyandang status santri saja, sudah sanggup membuat kita untuk terus berusaha menjaga sikap. Kebersamaannya, kesederhanaannya, keprihatinannya. Semuanya aku suka.”
Siapa sangka jika kehidupan pesantren yang paternal dan religius itu memberi ruang khusus untuk debar-debar seorang ABG. Lebarnya jarak antara ustadz dan santri justru menjadi setting yang pas untuk berbait-bait puisi, yang dikirimkan dalam serangkaian surat Laura; kentalnya kehidupan agama dan luasnya lautan ilmu di pesantren menjadi alasan tepat bagi Laura untuk mempertanyakan perasaannya pada Ustadz Yahya, antara cinta ataukah rasa kagum. Paling tidak, dua hal ini menjadi latar belakang dramatis sehingga cerita menjadi chic.
Dari latar yang sudah asyik itulah, Fina menyampaikan cerita secara alami dan dalam bahasa percakapan anak ABG masa kini sehingga cerita terasa lebih chic lagi.
Bukan Karya Pertama dan Satu-Satunya
Just for U Ustadz adalah satu dari 5 buku yang pernah ditulis Fina Afidatussofa (18 tahun). Empat lainnya telah diterbitkan oleh Matapena dan LKiS.anda bisa menemuinya di fina_friendship@yahoo.com
Fina juga bukan satu-satunya anak ABG yang telah membuahkan karya di usia muda. Di desa Kalibening, Salatiga, komunitas belajar Qaryah Thayyibah telah menerbitkan banyak karya muridnya. Komunitas belajar ini bahkan bisa dibilang, gudangnya sejuta karya.
Karya-karya murid terbentang antara karya tertulis, lagu, video, gambar dan banyak lagi. Beberapa karya tulisan diterbitkan oleh penerbit komersial seperti Matapena dan LKiS, sebagian yang lain diproduksi secara manual (handmade) dan terbatas oleh pengelola KBQT.

Karya-karya anak di Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah. Ini baru sebagian saja lho. Semua dijual untuk mendukung pembiayaan sekolah ini.








