Oleh: Nailil | Mei 10, 2009

Baru Terbit, Fiksi Siswa Qaryah Thayyibah

Cover Just for U Ustadz

Sampul Buku "Just For U, Ustadz", karya Fina (Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah Salatiga). 262 halaman; 11 x 17 cm; Penerbit Mata Pena; Februari 2009; Harga Rp. 20,000.-

Di sampul belakang novel remaja ini tertulis:

“Hey, dia bukan santri, tapi ustadz,” bisik Syariah.

Laura sedikir mrengut.

“Napa? Nyesel, naksir ustadz itu?”

“Iya, nyesel. Nyesel duduk di belakang. Tahu gini, aku milih duduk di depan,” ucap Laura dengan senyum saltingnya.

Itu mengawali masa-masa indah Laura. Apalagi surat yang ia titipkan lewat Ali untuk sang ustadz mendapat balasan. Laura merasa tak bertepuk sebelah tangan. Ia jadi penuh semangat. Sampai tiba-tiba muncul sosok Zahra, gadis masa lalu Ustadz Yahya, dan tiba-tiba juga mereka seperti dipertemukan sebagai berjodoh.

“Aku tidak menduga kalau ustadz bisa setega itu,” Syariah menarik napas berat.

“Terus kamu mau bagaimana? Apa mau menghentikan pernikahan itu?”

Hmm, apa iya Laura akan menghentikan pernikahan Ustadz Yahya dan Zahra? Kalau enggak, lantas apa yang akan dilakukan Laura?

Benar, karya fiksi yang satu ini termasuk ke dalam genre chic-lit alias sastra populer, bacaan kaum remaja. Namun siapa sangka jika latar belakang yang diangkat oleh fiksi ini adalah kehidupan pesantren, sebuah kehidupan yang jauh dari jangkauan remaja perkotaan. Lantas, bagaimana novel ini mengemas kehidupan santri sebagai cerita yang chic?

Tokoh utama fiksi ini adalah Laura, seorang gadis yang berumur kira-kira sama dengan penulisnya yaitu belasan tahun. Laura adalah gadis penuh semangat belajar. Menimba ilmu di pesantren adalah keputusan yang diambilnya sendiri, tanpa paksaan dari siapapun. Inilah mengapa di sepanjang cerita Laura enjoy menjalani hari-harinya di pesantren. Melalui senangnya hati Laura, Fina berhasil memancarkan kedamaian dan keceriaan kehidupan pesantren hingga menyentuh benak pembacanya.

“…salafnya tetep kerasa kok,” tambah Laura, “aku juga seneng banget di pondok. Seperti ada kedamaian tersendiri. Kelakuan kita bener-bener terkontrol. Dengan menyandang status santri saja, sudah sanggup membuat kita untuk terus berusaha menjaga sikap. Kebersamaannya, kesederhanaannya, keprihatinannya. Semuanya aku suka.”

Siapa sangka jika kehidupan pesantren yang paternal dan religius itu memberi ruang khusus untuk debar-debar seorang ABG. Lebarnya jarak antara ustadz dan santri justru menjadi setting yang pas untuk berbait-bait puisi, yang dikirimkan dalam serangkaian surat Laura; kentalnya kehidupan agama dan luasnya lautan ilmu di pesantren menjadi alasan tepat bagi Laura untuk mempertanyakan perasaannya pada Ustadz Yahya, antara cinta ataukah rasa kagum. Paling tidak, dua hal ini menjadi latar belakang dramatis sehingga cerita menjadi chic.

Dari latar yang sudah asyik itulah, Fina menyampaikan cerita secara alami dan dalam bahasa percakapan anak ABG masa kini sehingga cerita terasa lebih chic lagi.

Bukan Karya Pertama dan Satu-Satunya

Just for U Ustadz adalah satu dari 5 buku yang pernah ditulis Fina Afidatussofa (18 tahun). Empat lainnya telah diterbitkan oleh Matapena dan LKiS.anda bisa menemuinya di fina_friendship@yahoo.com

Fina juga bukan satu-satunya anak ABG yang telah membuahkan karya di usia muda. Di desa Kalibening, Salatiga, komunitas belajar Qaryah Thayyibah telah menerbitkan banyak karya muridnya. Komunitas belajar ini bahkan bisa dibilang, gudangnya sejuta karya.

Karya-karya murid terbentang antara karya tertulis, lagu, video, gambar dan banyak lagi. Beberapa karya tulisan diterbitkan oleh penerbit komersial seperti Matapena dan LKiS, sebagian yang lain diproduksi secara manual (handmade) dan terbatas oleh pengelola KBQT.

Karya-Karya Qaryah Thayyibah

Karya-karya anak di Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah. Ini baru sebagian saja lho. Semua dijual untuk mendukung pembiayaan sekolah ini.

Oleh: Nailil | Mei 6, 2009

Macam Jeruk Lokal Gn. Merbabu

Jeruk Gulung dalam Imajinasiku

"Alangkah semaraknya pohon jeruk ini jika buahnya sudah matang." Ini adalah gambar yang ada di benakku ketika melihat banyaknya buah yang menggantung di pohon jeruk di Pasengan Dhuwur. Klik pada gambar untuk melihat foto aslinya.

Jika melintas di Kopeng (lokasi wisata di Jl. Magelang-Salatiga), kita akan menemukan mbok-mbok menjajakan jeruk lokal. Jeruk yang dijual dulunya ada 2 macam yaitu Jeruk Keprok dan Jeruk Batu Manis. Sekarang, seringkali hanya jeruk Batu Manis.

Saya adalah salah satu orang yang gemar membeli jeruk di sana. Selain harganya lebih murah, jeruk di Kopeng juga dijamin aman, segar dan matang. Jeruk-jeruk ini dipetik dari pohon-pohon yang tumbuh di halaman rumah penduduk; jadi dijamin ORGANIK, sama sekali tak tersentuh pupuk apalagi pestisida.

Saya pernah melewati sebuah dusun di dekat Kopeng. Hampir di semua halaman rumah penduduknya berdiri pohon jeruk yang menjulang tinggi hingga melampaui atap rumah. Banyaknya jeruk matang di atas pohon (warna kuning cenderung oranye) bagaikan kelap-kelip bintang yang bikin berdecak kagum. Mulai saat itu, mata saya selalu awas jika ada pohon jeruk di dusun manapun di Gn. Merbabu.

Hati saya langsung berdentam keras ketika menemukan sebuah rumah sederhana dengan pohon jeruk di dusun Pasengan Dhuwur. Pohon jeruknya digelayuti buah yang besar-besar dan banyak sekali. Warna buah jeruk yang semuanya hijau tidak bisa mengekang imajinasi saya untuk mengimajinasikan semarak warnanya jika sudah matang. Tadinya saya mengira itu adalah buah jeruk Batu Manis, yang jika matang, buahnya besar berwarna kuning-oranye. Ternyata jeruk itu adalah jeruk lokal lain dari Gn. Merbabu, yang belum pernah saya cicipi. Baca Lanjutannya…

Oleh: Nailil | April 25, 2009

Komitmen Organik Petani Selongisor

Pada petang, 5 April 2009, saya meluncur ke Dusun Selongisor di lereng Gn. Merbabu (1.400 mdpl) untuk menghadiri pertemuan rutin Kelompok Tani Tranggulasi. Saya tiba di dusun ini sekitar jam 8 malam dan pertemuan baru saja dimulai. Pertemuan dihadiri oleh sekitar 25 petani (berusia sekitar 37 th s/d 70 th); mereka semua adalah anggota kelompok tani ini.

Plang KT. TranggulasiPlang Koperasi TranggulasiPlang LKM Tranggulasi

Pertemuan diadakan di salah satu rumah penduduk. Rumah tradisional dengan pencahayaan seadanya itu semakin remang dengan kepulan asap dari tembakau racikan para petani, terciptalah aroma dan ambience yang khas. Saya pun bagai perawan di sarang penyamun. Duduk di atas tikar bersama sebagian petani yang muda, kami saling berhadap-hadapan, membentuk dua lajur memanjang. Sementara itu beberapa petani yang lebih senior (tua) duduk di atas balai-balai, di sebuah sudut ruangan. Baca Lanjutannya…

Oleh: Nailil | April 22, 2009

Rapat Anggota Tahunan KSU GATARI 2008

RAT KSU GATARI 2008

Sesi Diskusi

Rapat Anggota Tahunan Koperasi Serba Usaha Gardu Tani Mandiri (KSU GATARI) 2008 akhirnya diselenggarakan tanggal 6 April 2009. Pelaksanaan RAT ini berlangsung dengan sederhana di Dusun Kedakan, di rumah bapak Suroyo. Dusun Kedakan ini merupakan pos pendakian Gunung Merbabu, sehingga lokasinya cukup sulit dijangkau oleh anggota KSU GATARI yang berasal dari berbagai dusun lain. Baca Lanjutannya…

Oleh: Nailil | April 17, 2009

Pulang Kampung ke Jepara

Dua minggu lebih aku absen posting di blog ini. Jogja-Magelang-Salatiga-Magelang-Jogja-Jepara-Jogja: sepulang dari perjalanan ini sepertinya banyak banget yang bisa aku ceritakan.

Yang paling menarik, ini adalah pertama kalinya aku pergi ke Jepara dengan sepeda motor. Pada hari itu, Sabtu 11 April 09, kulengkapi diriku dengan jaket tebal dan sepatu boot. Saat berhenti di lampu merah perempatan Jombor, angin yang dingin sedingin angin musim gugur datang dari arah utara. Perasaanku tidak enak. Ternyata benar saja, dari Jombor hingga Sleman hujan deras mengguyur jalanan, menciptakan aliran air yang menggulung-gulung bikin pusing kepala kalau melihatnya. Tapi lepas Tempel, udara berangsur cerah lagi. Wah, perjalanan jauh dengan sepeda motor memang terasa beda. Baca Lanjutannya…

Oleh: rasihhilmi | April 4, 2009

Resource Center Kalibening

Resource Center secara harfiah berarti Lumbung Sumberdaya. Tempat dimana orang orang bisa berbagi sumberdaya yang dimiliki. Resource Center (RC) mengangkat semangat berbagi. Bagaimana suatu buku (misal) bisa berfungsi dengan optimal. Tidak mungkin kita membaca berulang ulang buku yang sudah selesai kita baca. Buku yang sudah kita baca ini bisa kita taruh di RC agar bisa dimanfaatkan oleh orang lain tanpa harus membeli Buku yang baru.

Konsep RC di atas sudah berjalan di Kelurahan Kalibening, tepatnya di Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah (KBQT). Sampai saat ini sudah ada kurang lebih 300 buku titipan dari beberapa anggota RC, dan Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi-ien (pesantren di kelurahan Kalibening) sebagai penitip buku terbanyak. Buku-buku ini tiap harinya dapat diakses dengan gratis.

Ada satu lagi sumberdaya utama yang ada di RC Kalibening. Internet, merupakan sistem komunikasi yang saat ini menjadi pilihan masyarakat luas. Dengan internet kita bisa bertukar informasi dengan mudah, juga kita bisa mengakses informasi seluas luasnya. Baca Lanjutannya…

Oleh: Nailil | Maret 30, 2009

Ketela untuk Kulit Pai

Ketela Isi

Gemblong Isi

Wah, judulnya kelihatan sedap ya. Memang ini kesanku waktu merasakan jajanan baru yang 11 Maret lalu dilaunching Zulfa, Devi dkk. Mereka adalah siswa Sekolah Alternatif Qaryah Thayyibah, Kalibening, Salatiga. Umur mereka baru 17 tahun lho, cakep-cakep lagi. Penasaran sama jajanan ini?

Jajanan ini bentuknya kotak, kuning krem, bertabur keju di atasnya. Ukurannya lumayan kecil, bisa sekali hap. Setelah masuk di mulut, akan terasa sekali isinya yang berupa tapai ketan, pisang, nangka, coklat, strawberry atau yang lainnya. Kulitnya agak kenyal tapi creamy. Baca Lanjutannya…

Oleh: Nailil | Maret 27, 2009

Gn. Merbabu dari Selongisor

G. Merbabu dari SelongisorSelongisor berada di lereng sebelah timur laut Gunung Merbabu. Dusun ini berada di ketinggian 1300 mdpl dan mempunyai pemandangan lepas ke arah kedua puncak Gn. Merbabu, yaitu Puncak Syarif dan puncak Kentengsongo di ketinggian 3.141 mdpl.

Menurut penduduk Selongisor , spot yang paling pas untuk memandang seluruh dusun dan puncak Merbabu adalah di bagian atas dusun yang mereka sebut ‘pos pandang’. Setelah melihat lokasi itu, ternyata sama sekali tidak ada bangunan atau ‘pos’, apalagi yang megah seperti di Ketep Pass. Gardu Pandang Selongisor hanya berupa lahan kosong, penuh rerimbunan Bambu. Alih-alih kecewa, saya justru sangat senang dengan kondisi lokasi ini yang masih alami ini.

Setelah berjalan-jalan di dusun ini, saya menyadari bahwa Gn. Merbabu ternyata tampak indah dari berbagai sudut Selongisor. Berikut adalah beberapa view Gn. Merbabu dari Selongisor. Baca Lanjutannya…

Kidang Talun VCD & Cassette

Versi Bahasa Indonesia

KIDANG TALUN is the first compilation of Javanese children’s song. It was released on 2004 as indie label, by Mr. Sudjono and Swara Lintang vocal group. Mr. Sudjono is a teacher in Elementary School, but since then he facilitate Community Schooling in Kalibening village, Salatiga, Central Java. Swara Lintang is the community school’s students. They belongs to Kalibening Community.

I’d like to appreciate them who worked very hard for this album. This article will guide you get the song meaning and message.  Hopefully it will teach us something. By the way, you can get the VCD or Cassette for Rp. 15.000,- or about 1.5 US$ only. The copy is still available. We had difficulties in distribution, while other 100 traditional song is waiting to be produced. You can support us by buying this product.

Buto-Buto Galak (Malicious Giants)

This is a mocking verse of The Giant, whom adult often made up to frighten their kids whenever they refuse to behave. In children point of view The Giant is unbearably funny. He likes jumping arround, with dirty face, thick skin and rolling eyes. The Giant takes naughty kids up by their ponny hair, so the kids blame each other on who is the first to make noise. A kid who was blamed shows angry face, but their friends take his face funny (like the Giant’s) and keep mocking him as they go home together, hand in hand. By the end of this song, we shall know that the Giant is only an imaginary character, a myth. Galak which means malicious, is just a word to shape the verse’s ryme: lunjak, sigrak, tanjak. Children don’t take galak/malicious by its meaning. Baca Lanjutannya…

English version

KIDANG TALUN adalah kompilasi lagu dolanan anak Jawa volume 1. Album ini dirilis tahun 2004 sebagai album indie, oleh Bp. Sudjono dan Vokal Grup Swara Lintang. Bp. Sudjono adalah guru sekolah dasar, tapi sejak penggarapan album ini beliau telah menjadi salah satu fasilitator di sekolah komunitas Qaryah Thayyibah di desa Kalibening, Salatiga, Jawa Tengah. Personil Swara Lintang juga merupakan murid-murid sekolah ini. Mereka adalah bagian dari komunitas Kalibening. Saya ingin menampaikan penghargaan sebesar-besarnya kepada semua yang telah bekerja keras untuk pengerjaan album ini. Artikel ini memberikan panduan untuk memahami makna setiap lagu. Semoga lagu-lagu ini memberi sesuatu yang baru pada kita. Oya, anda bisa membeli VCD dan Kasetnya hanya dengan Rp. 15.000,-. Masih banyak kok stoknya. Kami memang kesulitan dalam menjualnya, padahal masil ada 100 judul lagi (lagu dolanan jawa juga) yang menunggu kesempatan produksi. Anda bisa mendukung upaya kami dengan membeli produk ini. Baca Lanjutannya…

Tulisan Sebelumnya »

Kategori